Sulutnow.com-Bagi Muhamad Alkatiri, seorang ayah dari Bitung, perjuangan merawat anaknya yang menderita kanker mata bukanlah perjalanan yang mudah.
Sejak tiga tahun lalu, anaknya didiagnosis dengan kanker yang tidak hanya merenggut kesehatan fisik sang anak, tetapi juga menguras mental dan ekonomi keluarganya.


Namun, di tengah cobaan itu, kehadiran rumah singgah Yayasan Kanker Anak Pejuang Hebat (YKAPH) menjadi sebuah pertolongan yang sangat berarti.
“Rumah singgah ini benar-benar meringankan beban kami,” ujar Muhamad, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Yayasan yang dipimpin oleh Henny Tjiptamaya itu menyediakan tempat tinggal sementara secara gratis bagi keluarga pasien anak-anak yang harus menjalani pengobatan kanker di RSUP Prof. DR. RD Kandou, Manado.
“Kami bisa beristirahat di rumah singgah tanpa harus mencari kost. Sangat membantu, apalagi saya sudah tidak bekerja karena harus menjaga anak kami,” lanjutnya.
Bagi keluarga seperti Muhamad, yang tidak bisa meninggalkan anak sendirian selama proses pengobatan, rumah singgah ini menjadi tempat istirahat yang sangat dibutuhkan.
Setiap Rabu mereka menginap di rumah singgah, dan pada Kamis pagi anaknya menjalani kemoterapi.
“Tapi sekarang, syukur alhamdulillah, anak kami sudah rawat jalan,” ungkapnya dengan rasa syukur yang mendalam.
Muhamad mengenal rumah singgah YKAPH melalui bantuan Papa Alex dan Ibu Henny, yang membantu menunjukkan jalan kepada mereka.
“Kami cari alamat tempat ini, dan setelah tahu, kami langsung datang ke sini. Sehabis kemoterapi, pengobatan pun berlanjut,” tambahnya.
Perjalanan panjang ini dimulai saat anaknya berusia tiga tahun, ketika pertama kali didiagnosis dengan kanker mata.
Selama bertahun-tahun, keluarga ini menjalani masa sulit, di mana penyakit tersebut sempat kambuh.
“Pernah kelewatan minum obat dan imunisasi karena obatnya habis,” jelasnya.
Namun, di tengah kesulitan itu, Muhamad dan keluarganya tidak pernah menyerah.
Anaknya kini sudah bersekolah, dan semangatnya untuk terus melanjutkan pengobatan tetap tinggi.
“Dulu, waktu masih kecil, matanya merah seperti iritasi biasa, tapi waktu kelas satu sudah mulai membengkak,” kenangnya.
Berbagai pengobatan telah dijalani, dari membawa anak ke klinik hingga akhirnya diarahkan ke RSUP Prof. DR. RD Kandou.
Di sana, anaknya sempat mendapatkan perawatan di ruang Estela, yang menjadi tempat khusus untuk pasien anak-anak yang menjalani kemoterapi.
Muhamad juga bercerita bahwa anaknya memiliki riwayat Leukemia, sehingga perawatan yang diberikan sangat intens.
Di rumah sakit, tim dokter sempat menyarankan untuk melakukan biopsi, dan pengobatan lanjutan kembali dilakukan.
“Kami terus berjuang, demi anak kami. Dan rumah singgah ini sangat membantu kami dalam melewati hari-hari sulit tersebut,” ungkapnya.
Kini, meskipun anaknya masih menjalani pengobatan, harapan terus tumbuh.
Dengan bantuan rumah singgah YKAPH dan dukungan moral dari orang-orang seperti Henny Tjiptamaya, keluarga Alkatiri bisa sedikit bernafas lega di tengah beratnya perjuangan menghadapi penyakit yang diderita anak mereka.
“Kami sangat bersyukur. Kehadiran rumah singgah ini seperti cahaya harapan di tengah kesulitan yang kami hadapi,” ucap Muhamad penuh rasa syukur. (lix)










