Sulutnow.com, Sulut-Di tengah kesibukan persiapan Pilgub Sulawesi Utara (Sulut) 2024, calon gubernur Yulius Selvanus Komaling (YSK) mengungkapkan rasa sedih dan haru mendalam usai mendengar langsung keluh kesah para Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Dalam beberapa pertemuan di berbagai kabupaten dan kota, YSK menahan rasa haru ketika mendengarkan curahan hati para pegawai ini.

Bagi banyak dari mereka, PPPK adalah jalan untuk mengabdi dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, namun sering kali pengorbanan ini tidak diimbangi dengan penghargaan yang layak.
“Saya mendengar cerita yang jarang diketahui orang. Banyak dari PPPK ini bekerja hingga larut malam, memberi tenaga dan waktu tanpa pamrih. Tetapi ketika tiba waktunya pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP), mereka malah tidak diikutsertakan,” tutur YSK, yang disampaikan melalui Koordinator Media Center YSK-Victory Vanny Loupatty.
Bagi YSK, kondisi ini adalah bentuk ketidakadilan yang harus diatasi.
Kata dia, dalam pertemuan tersebut, seorang PPPK dari sektor pendidikan di Sulut menyampaikan bahwa beban kerja mereka tak kalah berat dari Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Namun, hingga saat ini, TPP yang diberikan kepada PNS tidak dialokasikan untuk mereka.
Alasan yang diberikan mulai dari kendala anggaran hingga masalah kas daerah yang minus.
Bagi mereka, alasan-alasan tersebut tak lebih dari bentuk pengabaian, karena pembangunan fisik yang memakan anggaran miliaran rupiah terus berlanjut.
“Kami sudah bekerja keras, kadang lebih dari yang diharapkan, tapi tetap diabaikan. Kami hanya ingin diperlakukan sama,” ucap seorang pegawai PPPK dengan suara bergetar.
Seorang PPPK lain di sektor kesehatan mengisahkan bagaimana ia harus berjuang di garis depan, langsung melayani masyarakat yang membutuhkan meskipun berisiko.
“Katanya ada TPP khusus, tapi ternyata itu hanya surga telinga. Kami hanya berharap hak kami dihargai, bukan dinilai sebelah mata,” ungkapnya.
YSK mengatakan ia tak bisa tinggal diam melihat ketidakadilan ini.
Baginya, kesejahteraan pegawai harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar tambahan anggaran.
“Apa artinya kita membangun gedung-gedung megah, tetapi orang-orang yang bekerja di dalamnya merasa tak dihargai?” kata YSK.
Tak bisa dipungkiri, ada daerah-daerah di Indonesia yang menunjukkan komitmen menghargai PPPK.
Kabupaten Sleman, Jawa Tengah, dan Kota Surabaya, Jawa Timur, misalnya, telah mengalokasikan TPP bagi pegawai PPPK mereka.
Di Sleman, kebijakan ini diambil setelah pemerintah mendengar keluhan para PPPK dan berkomitmen menyediakan TPP sebagai penghargaan yang setara bagi seluruh pegawai.
Di Surabaya, TPP bagi PPPK menjadi kebijakan nyata untuk memperkuat motivasi kerja dan mendorong kualitas pelayanan publik.
Kisah-kisah dari daerah tersebut membuat YSK semakin bertekad membawa perubahan di Sulut.
“Mereka bisa, kenapa kita tidak? Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, mereka tetap bisa mengutamakan kesejahteraan pegawai. Ini bukan soal angka, tapi soal rasa hormat, soal hak yang harus diperjuangkan,” tegasnya.
Menurut YSK, saatnya pemerintah Sulut meneladani daerah-daerah ini dan mengalokasikan TPP yang setara bagi PPPK, baik di sektor pendidikan, kesehatan, maupun sektor lainnya.
YSK berkomitmen memperjuangkan regulasi yang menjamin kesejahteraan pegawai PPPK di Sulut, termasuk mendorong lahirnya peraturan daerah (Perda) yang memastikan TPP bagi PPPK dianggarkan dengan prinsip keadilan.
“Mereka adalah ujung tombak pelayanan, orang-orang yang setiap hari bekerja keras agar masyarakat kita menerima layanan terbaik. Kita harus menunjukkan rasa terima kasih kita dengan tindakan nyata, bukan sekadar janji,” ujarnya.
Bagi YSK, perjuangan ini lebih dari sekadar kebijakan.
“Saya berdiri di sini bukan hanya sebagai calon gubernur, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang merasakan keadilan harus diwujudkan. Saya ingin Sulut menjadi tempat di mana setiap pegawai dihargai dengan sepenuh hati,” jelasnya.
Ia mengingatkan tentang pesan Presiden Prabowo Subianto kepada para pejabat di Indonesia.
“Kalau tidak bisa bantu banyak orang, bantulah beberapa orang. Kalau tidak bisa bantu beberapa orang, bantulah satu orang. Kalau tidak bisa bantu satu orang, janganlah buat orang lain menderita atau repot,” pungkasnya dengan penuh ketulusan. (gbs)










