Menu

Mode Gelap
SMP N 7 Bolmut Terbakar Damkar Datang Setelah Api Padam

Viral

Ratapan Sunyi dari Panti Werdha Ranomuut Saat Api Membakar Para Lansia

badge-check


					Ratapan Sunyi dari Panti Werdha Ranomuut Saat Api Membakar Para Lansia Perbesar

Sulutnow.com, Manado – Kabut duka turun perlahan di Kota Manado, menutupi sisa-sisa cahaya sukacita Natal 2025 yang seharusnya masih menyala di hati banyak orang.

Lilin-lilin belum sepenuhnya padam, lagu pujian belum sepenuhnya hilang dari ingatan, namun malam itu, duka datang lebih cepat dari harapan.

Malam Minggu, 28 Desember 2025, menjadi malam yang tak akan pernah terhapus dari ingatan kota ini.

Malam ketika api datang lebih dulu daripada doa, dan jeritan terdengar lebih cepat daripada lonceng Natal yang biasanya mengantar damai.

Di Panti Werdha Damai Ranomuut, Kecamatan Paal Dua, si jago merah mengamuk tanpa suara peringatan.

Bangunan sederhana yang selama ini menjadi tempat terakhir para lansia berlindung dari kerasnya hidup, berubah menjadi lautan api, sunyi, cepat, dan tak terduga.

Api menjalar tanpa ampun.

Memakan dinding demi dinding.

Menyusup ke kamar-kamar sempit tempat tubuh-tubuh renta merebahkan lelah, tempat doa-doa sederhana dipanjatkan sebelum tidur, tempat kenangan hidup dikumpulkan dalam kesunyian.

Sekira 16 lansia meregang nyawa malam itu.

Foto istimewa para lansia saat diselamatkan oleh petugas Damkar Manado dan warga sekitar

Mereka terjebak, bukan karena tak ingin menyelamatkan diri, melainkan karena tubuh mereka tak lagi sekuat kehendak.

Kaki yang gemetar tak mampu berlari.

Penglihatan yang kabur tak sanggup mencari jalan.

Napas yang pendek kalah oleh asap pekat yang mengisi ruang demi ruang.

Di saat api membesar, sebagian dari mereka mungkin masih terlelap.

Sebagian lain mungkin terbangun dalam kepanikan yang tak sempat dipahami.

Tidak ada cukup waktu.

Tidak ada cukup tenaga.

Ketika petugas mulai mengevakuasi jenazah, tangis pecah di udara yang masih berbau arang.

Isak orang-orang yang datang tergesa-gesa menyatu dengan suara sirene yang memecah malam.

Ada yang memanggil nama oma.

Ada yang menyebut opa dengan suara gemetar.

Namun tak satu pun jawaban datang dari balik puing-puing hitam itu.

Natal, yang seharusnya dirayakan dengan pelukan dan doa, malam itu berubah menjadi perpisahan paling sunyi dan paling kejam.

Dari 35 lansia yang tinggal di panti tersebut, sebagian besar berada dalam keterbatasan fisik.

Usia telah membuat mereka berdamai dengan pelan, dengan ketergantungan, dengan kesunyian.

Dan malam itu, keterbatasan itu menjadi batas tipis antara hidup dan kepergian.

Warga sekitar dan petugas pemadam berjuang sekuat tenaga.

Ember air berpindah dari tangan ke tangan.

Selang disemprotkan ke arah api.

Teriakan, panggilan, dan doa bercampur menjadi satu.

Namun api terlalu rakus.

Ia tidak memilih.

Ia tidak menunggu.

Ia membakar segala yang ada di hadapannya, tanpa mengenal usia, tanpa mengenal cerita hidup.

Tragedi ini meninggalkan luka yang dalam, bukan hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi nurani masyarakat Sulawesi Utara.

Pertanyaan-pertanyaan pahit muncul dari ruang duka, bukan untuk menyalahkan, melainkan sebagai jeritan hati agar musibah ini tak terulang.

Kapolda Sulawesi Utara melalui jajarannya kini melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap penyebab kebakaran.

“Penyebab kebakaran belum diketahui. Masih menunggu hasil olah TKP,” tegas Kapolresta Manado Kombes Pol Irham Halid, SIK.

Namun bagi keluarga korban, jawaban apa pun mungkin tak akan pernah cukup untuk menggantikan senyum terakhir orang-orang tercinta.

Tragedi Panti Werdha Damai Ranomuut bukan sekadar peristiwa kebakaran.

Ia adalah kecelakaan yang tak pernah diinginkan.

Ia adalah bencana yang datang tanpa memilih korban.

Ia menjadi cermin bagi kita semua, tentang bagaimana sebuah masyarakat memeluk mereka yang telah menghabiskan hidupnya untuk keluarga, untuk anak cucu, untuk bangsa, lalu menua dalam sunyi.

Kini, suara dari publik menggema, meminta agar keselamatan seluruh panti jompo dan panti asuhan di Bumi Nyiur Melambai terus diperhatikan dan diperkuat.

Bukan karena kemarahan, tetapi karena cinta.

Bukan karena mencari salah, tetapi karena ingin melindungi.

Agar tak ada lagi Natal yang berakhir dengan abu.

Agar tak ada lagi orang tua yang pergi sendirian, dalam gelap, tanpa sempat mengucap selamat tinggal.

Di puing-puing Ranomuut, yang tersisa bukan hanya arang dan dinding runtuh,
tetapi juga pertanyaan paling jujur yang mengetuk nurani kita semua.

Sudahkah kita cukup menjaga mereka yang dulu menjaga kita dengan penuh cinta?

Berikut data yang diperoleh nama-nama korban yang berhasil diselamatkan hingga berita ini diterbitkan:

1. Ibu Olfa Sumual (76 Thn) Ketua / Pengurus Panti Werda

2. Oma Rike Kaligis (73 thn)

3. Oma Meiske Merke (60 thn)

4. Opa Christian Yusuf (52 thn)

5. Opa Petrus Fredy (83 thn)

6. Oma Stien Walelenh (80 thn)

7. Oma Chia Chin Hin (92 thn)

8. Oma Olin Kopalit (61 thn)

9. Opa Joppy Wahani (70 thn)

10. Opa Paulus Kaonang (70 thn)

11. Oma Jetty Kandou (86)

12. Oma Stien Gerungan (70 thn)

13. Oma Yutindam (70 thn)

14. Oma Kean She Poe (68 thn)

15. Oma Rolin Rumeen (64 thn)

16. Oma Lao Kim Hoa (73 Thn). (lix)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gerak Cepat PLN, Listrik di Manado Pulih 100 Persen Usai Gempa

4 April 2026 - 10:38 WITA

Bank SulutGo Perkuat Peran dalam Pendidikan, Kelola Dana Bantuan Kebanksentralan Bersama BI

2 April 2026 - 18:36 WITA

Inflasi Sulut Maret 2026 Terkendali, Terendah di Sulawesi

2 April 2026 - 17:52 WITA

PLN Gerak Cepat Pulihkan Listrik Pasca Gempa, Ratusan Gardu Berhasil Dinormalkan

2 April 2026 - 14:12 WITA

Pemprov Sulut Gerak Cepat Tangani Gempa, Posko Darurat Langsung Diaktifkan

2 April 2026 - 13:28 WITA

Trending di Berita Sulut
error: Dilarang Plagiarisme !!!