Sulutnow.com-Harapan pasangan Yulius Selvanus Komaling dan Johannes Victor Mailangkay (YSK-JVM) untuk memenangkan Pilgub Sulawesi Utara (Sulut) 2024 kian memudar.
Hasil survei terbaru dari LSI Denny JA, yang dikenal sebagai lembaga survei terakurat, menempatkan mereka di posisi paling bawah dengan angka elektabilitas hanya 4,7 persen.


Konferensi pers terkait penarikan dukungan GP 08 kepada YSK-JVM
Ini menjadi pukulan telak, terutama mengingat dukungan dari Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus, yang seharusnya menjadi modal politik yang kuat.
Namun, badai politik semakin mengguncang YSK-JVM dengan pengumuman terbaru dari Ketua Umum DPP Gerakan Prabowo 08 (GP-08), Nancy Angela Hendriks.
Dalam konferensi pers yang diadakan di Warung Puncak, Kelurahan Winangun, Jumat (4/10/2024), Nancy mengumumkan bahwa Gerakan Prabowo 08 resmi mencabut dukungan mereka dari pasangan YSK-JVM dan mengalihkan dukungan kepada pasangan Steven Kandouw-Denny Tuejeh (SK-DT).
“Mulai hari ini, kami mencabut dukungan untuk YSK-JVM dan mendukung Pak Steven Kandouw dan Pak Denny Tuejeh,” ujar Nancy tegas, mengakhiri komitmen panjang GP-08 kepada YSK-JVM.
Keputusan ini tidak diambil sembarangan, melainkan berdasarkan hasil Rakorda GP-08 yang menunjukkan adanya krisis komunikasi antara tim YSK-JVM dan relawan.
Nancy juga menyoroti faktor lain yang memicu pengalihan dukungan ini, yaitu rumah pemenangan di Kecamatan Sario yang diberikan oleh GP-08 tetapi tidak dimanfaatkan oleh tim YSK-JVM.
“Kami melihat banyak peluang yang terlewatkan, terutama dalam penggunaan fasilitas yang sudah disediakan untuk mendukung kampanye,” tambah Nancy, menyiratkan ketidakpuasan terhadap kinerja tim YSK-JVM.
Lebih jauh, Nancy menyebut hasil survei yang stagnan dan menurun meskipun ada dukungan dari banyak partai, sebagai salah satu alasan penting mengapa GP-08 memutuskan untuk beralih.
“Survei menunjukkan angka yang tidak bergerak, bahkan cenderung menurun. Ini menjadi sinyal bahwa perubahan harus dilakukan,” jelas Nancy.
Keputusan GP-08 untuk menarik dukungan ini mencerminkan betapa dinamis dan rapuhnya dukungan politik, terutama menjelang Pilkada.
Perubahan ini juga mencerminkan realitas politik nasional, di mana hubungan antara PDIP dan Prabowo Subianto semakin erat, yang mungkin turut memengaruhi pergeseran dukungan di level lokal.
Kini, masa depan YSK-JVM berada di titik nadir.
Dengan ditinggalkannya dukungan dari GP-08, posisi mereka semakin sulit di tengah persaingan yang ketat.
Sementara itu, pasangan Steven Kandouw dan Denny Tuejeh tampaknya mengambil momentum baru, dengan dukungan yang semakin menguat dari berbagai lapisan masyarakat.
Pertanyaan besar yang muncul sekarang adalah, apakah pasangan YSK-JVM mampu bangkit dari keterpurukan ini?
Mampukah mereka mengatasi krisis dukungan dan kembali mendapatkan kepercayaan publik?
Atau justru mereka akan tersingkir oleh dinamika politik yang semakin cepat berubah?
Hanya waktu yang bisa menjawab.
Dukungan yang ditarik secara tiba-tiba ini menjadi pelajaran penting tentang betapa cepatnya peta politik bisa bergeser.
Pasangan YSK-JVM kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dalam politik, dukungan bisa beralih secepat kilat, dan hanya mereka yang mampu menjaga kepercayaan serta beradaptasi dengan perubahan yang akan bertahan. (El)










