Menu

Mode Gelap
SMP N 7 Bolmut Terbakar Damkar Datang Setelah Api Padam

Berita Sulut

15 Menit yang Menyentuh Hati: Di Bolsel YSK Nyanyikan Lagu Nostalgia, Ingatkan Arti Iman dan Nasionalisme

badge-check


					15 Menit yang Menyentuh Hati: Di Bolsel YSK Nyanyikan Lagu Nostalgia, Ingatkan Arti Iman dan Nasionalisme Perbesar

Sulutnow.com, Bolsel-Di tengah hiruk-pikuk Bolsel Ramadan Fest, panggung sederhana itu tiba-tiba disinari kehadiran seorang pemimpin.

Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Yulius Selvanus Komaling (YSK), yang baru saja menyelesaikan kunjungan kerja di pelosok selatan, menyempatkan diri mampir hanya 15 menit.

Namun, sepersepuluh jam itu cukup untuk menggugah ingatan, merajut haru, dan mengingatkan ribuan hati tentang dua hal yang sering terlupa, keimanan dan kecintaan pada tanah air.

Tak ada protokol ketat dan tak ada podium megah.

YSK, dengan kemeja lengan panjang sederhana, langsung menyapa para pelaku UMKM kebanyakan anak muda yang berjubel di stan-stan Ramadan Fest.

Senyumnya lebar, jabat tangan hangat membuat muda-mudi disitu sangat gembira.

Namun tiba-tiba, ia naik ke panggung, mengambil mikrofon, dan berkata, “mari kita nyanyikan lagu yang mengingatkan kita siapa diri kita sebenarnya.”

Faja’atan Band, grup musik lokal dadakan, langsung mengalunkan intro lagu pertama berjudul “Tuhan” karya Bimbo.

Suara YSK yang dalam dan syahdu mengisi udara dan menggema ke pelosok negeri itu.

“Tuhan, jagalah kami dalam pelukan-Mu,” demikian bunyi liriknya.

Beberapa pengunjung pun terdiam.

Seorang ibu tampak mengusap air mata, dan seorang bapak bersarung ikut bersenandung.

Sebagian anak muda merekam dengan ponsel, mungkin baru pertama kali mendengar lagu tahun 1974 ini.

“Dulu, lagu ini selalu diputar di kios Om Guntur, ayah sahabat saya. Saat kita masih kecil, saat Ramadan masih terasa begitu khusyuk,” bisik seorang warga, seperti menguak memori masa lalu.

Lagu kedua “Rumah Kita” dari God Bless.

YSK mengayunkan nada dengan semangat dan memaknai setiap kalimat yang dinyanyikan.

Lagu yang diciptakan Ian Antono di era 80-an ini kisah perjuangan antara merantau dan rindu kampung tiba-tiba terasa relevan.

Di depan panggung, seorang pemuda UMKM pengrajin anyaman berkaca-kaca dan mengatakan, “ini lagu bapak saya dulu. Beliau merantau ke Jawa, tapi selalu bilang: ‘Jangan lupa, rumah kita di sini’.”

YSK tak sekadar menyanyi.

Ia menyampaikan pesan tanpa kata tentang nasionalisme bukan slogan, tapi rasa memiliki.

Di tengah gempuran budaya global, ia mengajak warga Sulut untuk “pulang”, pulang pada nilai-nilai luhur, pada tanah yang menjagai mereka.

Ada makna tersembunyi di balik dua lagu.

“Tuhan” oleh Bimbo (1974), lagu religi yang mengajak refleksi diri, mengingatkan bahwa di balik kesibukan dunia, manusia hanya hamba yang perlu berserah.

“Pesan Gubernur jelas, dimana seorang Pemimpin harus rendah hati. Kekuasaan hanyalah titipan,” kata Ustadz Fahmi, tokoh agama setempat.

“Rumah Kita” oleh God Bless (1988) adalah gambaran kisah pilu Ian Antono yang terombang-ambing antara karir dan kampung, kini menjadi simbol kecintaan pada daerah.

“Sulut ini rumah kita. Jangan sampai kita ramai membangun mall, tapi lupa membangun hati,” ucap YSK singkat usai turun panggung.

“Saya baru tahu lagu ‘Tuhan’ itu ternyata sedalam ini. Tadi merinding, Pak Gubernur menyanyi seperti orang tua sendiri,” ujar Rani salah satu pedagang kue.

“Lagu ‘Rumah Kita’ ini dulu sering diputar di radio zaman saya muda. Sekarang didengar lagi, rasanya… kita harus jaga Sulut seperti menjaga keluarga,” ucap Darwis.

Fajar, Anggota Faja’atan Band mengaku gugup saat bernyanyi bersama Gubernur.

“Nervous banget mengiringi Pak Gubernur! Tapi beliau bilang, ‘Yang penting hati, bukan teknik’,” ungkapnya.

YSK mungkin hanya menghabiskan seperempat jam di Bolsel Ramadan Fest.

Tapi dalam waktu singkat itu, ia membawa pulang tiga hal.

Pertama, kerendahan hati seorang pemimpin yang mau menyanyi dengan rakyat.

Kedua, nostalgia dimana musik sebagai jembatan mengikat generasi.

Ketiga, pengharapan bahwa iman dan nasionalisme adalah pondasi Sulut ke depan.

“Kita sering lupa, pemimpin juga manusia. Tapi malam ini, Pak Gubernur mengajari kita menjadi manusia cukup dengan dua hal, yaitu takwa pada Tuhan, setia pada Merah Putih,” tutur Ai Ling, mahasiswi yang hadir di lokasi.

Sebelum meninggalkan panggung, YSK berpesan “Jangan biarkan gawai dan gadget menghapus lagu-lagu yang mengajari kita arti hidup.”

Mungkin, di sudut hati setiap warga yang hadir, malam itu mereka sepakat bahwa 15 menit bersama Gubernur YSK adalah pengingat abadi bahwa di antara gemerlap dunia, kita tetap perlu menyanyi untuk Tuhan dan tanah air.

News feature
Penulis/editor: Felix Tendeken

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gerak Cepat PLN, Listrik di Manado Pulih 100 Persen Usai Gempa

4 April 2026 - 10:38 WITA

Bank SulutGo Perkuat Peran dalam Pendidikan, Kelola Dana Bantuan Kebanksentralan Bersama BI

2 April 2026 - 18:36 WITA

Inflasi Sulut Maret 2026 Terkendali, Terendah di Sulawesi

2 April 2026 - 17:52 WITA

PLN Gerak Cepat Pulihkan Listrik Pasca Gempa, Ratusan Gardu Berhasil Dinormalkan

2 April 2026 - 14:12 WITA

Pemprov Sulut Gerak Cepat Tangani Gempa, Posko Darurat Langsung Diaktifkan

2 April 2026 - 13:28 WITA

Trending di Berita Sulut
error: Dilarang Plagiarisme !!!