Sulutnow.com, Manado – Harga kopra di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) terus merangkak naik.
Pada Rabu, 30 April 2025, harga komoditas andalan petani kelapa itu menembus angka Rp 20.100 per kilogram di gudang kopra Kelurahan Calaca, Kota Manado.

Kenaikan ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Sebelumnya, harga kopra bertahan di angka Rp 19.900 per kilogram.
Kabar ini menjadi angin segar bagi para petani kelapa yang sempat terseok akibat anjloknya harga kopra sepanjang 2023 hingga pertengahan 2024.
“Harga naik hari ini, lumayan ada beberapa petani yang jualan kopra,” kata Ida, penjaga gudang kopra di Calaca melansir dari Tribun Manado.
Ia mencatat dalam beberapa hari terakhir, geliat transaksi di gudang mulai meningkat, meski belum seramai masa kejayaan kopra tahun-tahun sebelumnya.
Kenaikan harga ini tak lepas dari membaiknya pengelolaan sektor pertanian di era kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay.
Keduanya kerap menekankan pentingnya mendorong hilirisasi hasil pertanian dan memperkuat mata rantai distribusi hasil bumi Sulut, termasuk komoditas kopra yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi rakyat.
Apa yang dilakukan seiring sejalan dengan program pemerintah pusat dibawah komando Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan petani sejahtera.
“Memang ada penurunan pasokan karena buah kelapa makin berkurang. Sehari paling empat sampai lima karung yang masuk ke gudang. Tapi belakangan mulai ramai lagi,” kata Ida.
Ia memprediksi harga kopra masih akan naik karena stok di tingkat petani menipis sementara permintaan pasar tetap tinggi.
Kondisi ini menandai pulihnya perlahan kejayaan petani kelapa di provinsi berjulukan bumi nyiur melambai.
Sebuah sinyal bahwa sektor agrikultur, yang sempat terpuruk, mulai mendapat perhatian serius di tangan kepemimpinan baru di provinsi ini.
“Kalau saya lihat, harga bisa terus naik karena stok sedikit. Semoga petani bisa lebih sejahtera,” ucap Ida.
Terpisah Menteri Perdagangan Budi Santoso buka-bukaan mengenai harga kelapa yang melonjak tinggi akhir-akhir ini.
Menurut dia, hal ini terjadi karena banyak kelapa di dalam negeri diekspor ke China.
Menurut dia, permintaan ekspor ke negeri berjulukan tirai bambu tengah tinggi.
Selain itu harga ekspor juga tinggi membuat pengusaha memilih menjual kelapa ke luar negeri.
Hal tersebut hasil buah kerja keras Presiden Prabowo dan jajaran pemerintah daerah di seantero Indonesia.
“Itu kan kelapa naik harganya kan karena ekspor, ekspor dari China jadi harga naik,” katanya dikutip detikFinance, Minggu (20/4/2025).
Sebuah harapan yang tak lagi utopis di tengah naiknya harga komoditas andalan ini.
Penulis/editor: Felix Tendeken










