Sulutnow.com, Manado – Pagi itu, halaman belakang Kantor Gubernur Sulawesi Utara tampak sibuk.
Deretan kendaraan dinas mobil dan sepeda motor terparkir rapi, mencerminkan wajah modern birokrasi hari ini.

Namun di balik kilau bodi kendaraan, Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, mengingatkan para aparatur sipil negara (ASN) untuk tidak lupa bersyukur.
“Saya dulu berpangkat kapten, kendaraan saya cuma sepeda Mustang,” kenang Yulius dalam apel kendaraan dinas, Selasa, 22 April 2025.
Ia berbicara bukan untuk mengeluh, tapi memberi konteks.
Bahwa apa yang dinikmati ASN hari ini adalah sebuah kemewahan yang tak selalu dinikmati generasi sebelumnya.
Yulius bahkan menuturkan, ketika telah berpangkat kolonel, ia masih tinggal di rumah kontrakan.
Bukan rumah dinas, apalagi rumah mewah.
“Karena waktu itu ya memang hanya bisa seperti itu,” ucapnya, lugas.
Kini, zaman berubah.
Fasilitas teknologi canggih hingga kendaraan dinas sudah menjadi bagian dari keseharian birokrat.
Tapi, menurut Gubernur, perubahan itu seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan rasa berhak.
“Kita tidak pernah merancang hidup kita, Tuhan yang merancang. Maka syukurillah berkat kehidupan yang diberikan,” ujarnya.
Bersyukur, bagi Yulius, tidak berhenti pada ucapan.
Ia menekankan pentingnya merawat kendaraan dinas yang notabene dibiayai dari uang rakyat.
Kendaraan itu, kata dia, bukan milik pribadi, melainkan amanah.
“Harus bertanggungjawab, rawat baik-baik,” pesannya.
Dalam nada yang sama, Yulius mengingatkan ASN agar tidak tergoda korupsi baik waktu maupun materi.
“Sekali lagi, jangan tergoda. Banyak bisikan yang menggoda kita. Jangan tergoda satu rupiah. Bisa masuk penjara,” katanya tegas, nyaris seperti pesan seorang ayah pada anak-anaknya.
Di hadapan para ASN pagi itu, Yulius bukan hanya seorang gubernur.
Ia tampak seperti seseorang yang pernah berjalan kaki di jalan terjal kehidupan, dan kini berusaha menunjukkan bahwa syukur adalah kunci agar tak tergelincir ketika sampai di atas.
Penulis/editor: Felix Tendeken










