SULUTNOW.COM, MINAHASA – Sabtu itu di Desa Tounelet, Kecamatan Kakas, Minahasa, berubah menjadi panggung syukur dan nostalgia.
Belasan ribu orang dari berbagai penjuru Sulawesi Utara (Sulut) memadati desa kecil di tepi danau itu.

Mereka datang bukan hanya untuk merayakan terpilihnya Yulius Selvanus sebagai Gubernur Sulut, tetapi juga untuk memperingati ulang tahun pernikahan ke-33 sang gubernur dengan Anik Wandriani.
Di bawah langit biru yang bersih, tenda-tenda berdiri megah di tengah ladang hijau.
Lagu-lagu rohani mengalun pelan, membingkai suasana haru dan sukacita yang menyelimuti bangsal syukur.
“Ini kali pertama kami rayakan di kampung halaman,” kata Linda Lumbaa, kakak Gubernur, saat menyambut para undangan. Suaranya bergetar.
“Kami benar-benar merasa pulang kampung.”
Bersama sang istri dan anak-anaknya, Gubernur Yulius begitu ia akrab disapa tiba dengan senyum lebar dan melambaikan tangan ke arah kerumunan.
Warga menyambutnya dengan sorak sorai.
Tak sedikit yang menyalaminya, memeluk, bahkan menitikkan air mata.
“Ini bukan sekadar pesta kemenangan,” kata seorang warga. “Ini pesta hati.”
Acara dimulai dengan ibadah syukur, diikuti dengan puji-pujian yang dibawakan langsung oleh keluarga Komaling.
Dalam kesaksiannya, Gubernur YSK mengungkap kisah rumah tangganya yang langgeng lebih dari tiga dekade.
“Selama 33 tahun, saya tidak pernah memarahi istri saya,” ujarnya di hadapan ribuan orang.
“Karena istri itu pendoa, dia kekuatan saya.”
Namun syukur ini bukan hanya tentang keluarga.
Bagi Yulius, Kakas adalah tempat yang sakral tanah leluhur yang menjadi titik tolaknya menuju kursi nomor satu di Sulut.
“Dari sini kami berangkat mengambil nomor urut calon ke KPU,” kenangnya.
“Dan dari tanah ini pula, kemenangan itu dimulai,” tambahnya.
Di tengah gegap gempita pesta rakyat yang dirangkaikan dalam acara itu, Gubernur YSK tak lupa menebar terima kasih.
Kepada rakyat Kakas yang memberi suara, kepada panitia, tim musik, pengurus logistik, hingga setiap tangan kecil yang membantu merapikan kursi.
“Terima kasih sudah tidak mempermalukan saya dan Pak Victor,” ujarnya dengan tawa kecil, menyebut wakilnya.
Panggung rakyat itu ditutup dengan iringan doa dan lagu.
Tapi gema syukurnya tampaknya masih akan bergema lama di Desa Tounelet.
Penulis/editor: Felix Tendeken










