SULUTNOW.COM, MANADO — Tak ada podium, tak ada jas dinas.
Hanya kaus putih sederhana dan sepasang sepatu lapangan.

Di bawah langit biru Pantai Karangria, Sindulang, Kamis pagi, 5 Juni 2025, Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Yulius Selvanus berdiri di antara ratusan orang yang berkumpul memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Tanpa banyak protokol, Gubernur membuka kegiatan dengan sebuah ajakan langsung tinggalkan plastik sekali pakai, dan kembalilah ke yang alami.
“Kalau dulu kita bisa bawa daun untuk bungkus makanan, pakai botol kaca, dan bawa tas belanja sendiri, kenapa sekarang tidak bisa?” ucap Yulius sambil mengangkat selembar kantong plastik bening yang ia pungut dari pasir.
Sekitar 750 peserta dari SKPD se-Sulawesi Utara, Pemerintah Kota Manado, unsur TNI-Polri, dan mahasiswa ikut dalam aksi bersih pantai yang digelar Pemerintah Provinsi Sulut.
Fokus kegiatan adalah membersihkan sampah plastik yang berserakan di sepanjang pesisir Karangria, sekaligus mengampanyekan pengurangan penggunaan plastik di kehidupan sehari-hari.
Alih-alih berdiri di atas mimbar, Gubernur memilih bergabung langsung bersama warga dan peserta.
Dengan tangan kanan kosong, ia memunguti plastik-plastik yang menghampar di pesisir pantai.
Istrinya, Anik Wandriani, juga tampak berjalan di belakangnya, ikut memungut sampah.
“Sampah plastik ini seperti hantu. Ringan, tapi bisa membunuh. Diam-diam masuk ke air dan ke tubuh,” kata Yulius, merujuk pada data mikroplastik yang kini ditemukan dalam air minum, garam dapur, bahkan darah manusia.
Dalam sambutan Menteri Lingkungan Hidup yang ia bacakan sebelumnya, disebutkan bahwa Indonesia menghasilkan lebih dari 10 juta ton sampah plastik setiap tahun.
Hanya 39 persen yang terkelola.
Sisanya tercecer, dibakar, atau hanyut ke laut.
“Ini bukan masalah besar yang harus ditangani besar. Ini bisa dimulai dari langkah kecil, bawa tumbler, tolak sedotan, pakai tas kain, beli produk lokal. Jangan tunggu regulasi. Mulai dari diri sendiri,” ujar Yulius, suaranya datar tapi jelas terdengar di antara debur ombak.
Bagi Yulius, Hari Lingkungan Hidup bukan soal seremonial tahunan, tapi soal kebiasaan yang harus diubah perlahan.
Ia menolak gaya peringatan yang formal dan kaku.
“Kalau cuma baca pidato di podium lalu pulang, itu bukan perubahan,” katanya.
Ia justru ingin momen ini jadi gerakan yang dimulai dari aksi nyata, di tempat nyata, dengan pakaian dan semangat yang sama seperti warga biasa.
Beberapa mahasiswa yang ikut dalam aksi mengaku terinspirasi oleh pendekatan Gubernur.
“Saya lihat Pak Yulius betul-betul turun tangan. Bukan hanya bicara, tapi langsung ikut bersihkan. Itu yang bikin kami ikut semangat,” kata Yohana salah satu mahasiswa yang ikut dalam kegiatan ini.
Aksi di Pantai Karangria ini hanya satu bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Sulut untuk mendukung target nasional pengelolaan sampah 100 persen pada 2029.
Namun, Yulius menekankan bahwa peraturan dan proyek bukanlah inti perubahan.
Kesadaran warga adalah kuncinya.
“Bumi tidak sedang menunggu kita. Tapi kita yang tergantung padanya. Maka mari wariskan alam yang bersih, bukan krisis yang kita tinggalkan,” ujarnya menutup kegiatan.
Hari itu, tak ada seremoni mewah.
Hanya pasir, angin laut, dan tangan-tangan yang bekerja diam-diam.
Tapi dari tepi Pantai Karangria, suara perubahan itu mulai bergema.
Penulis/editor: Felix Tendeken










