Sulutnow.com, Manado – Sulawesi Utara selalu dikenal dengan keindahan alamnya yang memikat hati. Dari laut biru Bunaken hingga perbukitan hijau Minahasa, setiap sudut tanah ini menyimpan cerita, harapan, sekaligus potensi besar untuk dunia pariwisata. Namun, tak semua objek wisata mampu bertahan menghadapi waktu. Ada yang perlahan kehilangan pesonanya, ada pula yang menunggu disentuh kembali agar bisa bersinar seperti dulu.
Itulah yang kini sedang diperjuangkan Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE. Melalui Staf Khusus Bidang Pariwisata, Dr. Drevy Malalantang, pemerintah menyampaikan komitmen besar untuk merehabilitasi dua destinasi unggulan: Sumaru Endo Romboken dan Bukit Kasih Kanonang.

“Gubernur sudah menyampaikan beberapa hal menyangkut rehabilitasi objek wisata alam itu,” ujar Dr. Drevy, Kamis (28/8/2025).
Bagi masyarakat Minahasa dan para wisatawan yang pernah datang, Bukit Kasih bukan sekadar lokasi wisata. Ia adalah simbol kerukunan, tempat di mana lima rumah ibadah berdiri berdampingan, melambangkan keberagaman yang rukun. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kondisinya menurun. Jalan setapak yang rusak, fasilitas terbatas, hingga kurangnya perawatan membuat pesonanya seakan memudar.
Sumaru Endo di Romboken pun demikian. Sumber air panas alami yang dahulu ramai dikunjungi wisatawan, kini mulai sepi. Padahal, kawasan ini memiliki potensi besar sebagai pusat health & wellness tourism, sebuah tren pariwisata yang kini tengah diminati wisatawan asing, terutama dari Tiongkok dan Korea.
“Jadi kedua tempat itu yang menjadi prioritas Pak Gubernur dalam waktu dekat. Apalagi ada air panasnya, sangat cocok untuk wellness tourism,” terang Drevy.
Dalam rencana rehabilitasi, pemerintah menekankan pentingnya desain yang selaras dengan alam. Drevy menegaskan bahwa pihaknya telah mengusulkan kepada dinas terkait agar renovasi tidak menghilangkan esensi keaslian.
“Saya berharap desainnya harmony dengan alam,” ujarnya.
Dengan pendekatan itu, pengunjung nantinya tidak hanya mendapatkan fasilitas modern, tetapi juga merasakan pengalaman menyatu dengan alam. Wisata yang bukan sekadar rekreasi, tetapi juga memberi ketenangan, kesehatan, dan refleksi batin.
Selain dua destinasi utama, Pemprov Sulut juga tengah mengkaji rencana rehabilitasi di beberapa lokasi lain. Bunaken, ikon pariwisata dunia yang sudah mendunia, masuk dalam daftar perhatian. Begitu juga Tasik Oki, yang rencananya akan dikembangkan sebagai taman satwa.
“Tempat yang masih kajian adalah aset Pemprov Sulut juga,” tambah Drevy.
Menurutnya, Tasik Oki berpotensi bukan hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga sumber pendapatan daerah. Sementara Paleloan, sebuah lokasi potensial lainnya, sedang dipelajari agar dapat dimanfaatkan tanpa merusak lingkungan.
Rehabilitasi ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi juga upaya membangkitkan kembali ingatan dan kebanggaan masyarakat Sulut terhadap kekayaan alamnya. Setiap jalan setapak yang diperbaiki, setiap sumber air panas yang dibersihkan, dan setiap fasilitas yang ditingkatkan, sejatinya adalah bentuk investasi untuk generasi mendatang.
Bayangkan seorang anak kecil Minahasa yang 10 tahun ke depan akan membawa keluarganya berwisata ke Bukit Kasih, bukan untuk melihat reruntuhan fasilitas lama, melainkan untuk menyaksikan simbol persaudaraan yang terawat dan hidup. Bayangkan wisatawan asing yang datang bukan sekadar berfoto, tetapi pulang dengan cerita tentang keramahan alam dan manusia Sulawesi Utara.
Inilah wajah baru pariwisata yang ingin dibangun pemerintah daerah: pariwisata yang menyentuh, pariwisata yang memberi makna, pariwisata yang berkelanjutan.
Penulis/editor: Felix Tendeken










