Sulutnow.com, Den Haag – Hujan tipis membasahi jalanan kota tua. Di pemakaman Oud Eik en Duinen, Den Haag, langkah Presiden Prabowo Subianto terasa pelan namun pasti. Di balik sosoknya yang tegas sebagai pemimpin negara, pagi itu ia hanyalah seorang cucu yang datang membawa rindu, Jumat (26/9/2025).
“Di sela-sela kunjungan resmi kenegaraan ke Kerajaan Belanda, saya menyempatkan diri berziarah ke pemakaman umum Oud Eik en Duinen di Den Haag,” ujarnya dengan suara yang penuh getar.


Foto istimewa nisan kakek dan nenek Presiden Prabowo Subianto di Belanda
Di hadapan pusara sederhana, berdiri cucu yang kini dipercaya memimpin Indonesia. Nisan itu milik Phillip Frederik Laurens Sigar dan Cornelie Emilie Sigar, kakek dan nenek dari garis ibunya, Dora Marie Sigar.
“Di tempat ini, bersemayam kakek dan nenek saya, orang tua dari Ibu saya, Dora Marie Sigar yaitu almarhum Phillip Frederik Laurens Sigar dan almarhumah Cornelie Emilie Sigar, yang wafat dan dimakamkan di Belanda pada tahun 1946,” tambah Prabowo.
Sesaat, kesunyian menyelimuti makam tua itu. Daun-daun gugur jatuh perlahan, seolah ikut menyaksikan pertemuan yang tak pernah disangka, cucu yang kini menjadi Presiden Republik Indonesia, berdiri di hadapan leluhur yang wafat jauh dari tanah Minahasa.
Air mata menetes. Prabowo menunduk, bibirnya bergerak lirih melafalkan doa. Dalam hening itu, ia seakan berbicara langsung kepada kakek dan neneknya, menyampaikan kabar, bahwa cucu mereka yang dulu hanya seorang bocah kini memanggul tanggung jawab besar, memimpin bangsa dengan darah dan nilai yang diwariskan dari Langowan dan Tondano.
Ada kebanggaan, ada luka, ada kerinduan yang tak pernah padam. Sebab baginya, nisan itu bukan sekadar penanda, melainkan tali pengikat cinta yang tak terputus oleh ruang dan waktu.
Masyarakat Minahasa tentu akan merasa bangga. Dari rahim Langowan dan Tondano, lahirlah darah yang kini mengalir pada seorang Presiden. Sejarah dan cinta keluarga itu tidak pernah ia lupakan. Bahkan dalam jadwal kenegaraan yang padat, Prabowo menyisihkan waktu untuk sebuah ziarah sunyi, karena ia tahu, akar yang melahirkan dirinya adalah bagian dari identitas yang tak boleh hilang.
Di hadapan pusara itu, Prabowo tidak sedang berbicara sebagai Presiden. Ia hanyalah seorang cucu. Seorang manusia yang merindukan kasih nenek, yang ingin memeluk hangat kakeknya. Ziarah itu menjelma pengingat bagi kita semua, bahwa sekuat-kuatnya manusia, setinggi-tingginya jabatan, kita semua hanyalah anak cucu dari leluhur yang lebih dulu berpulang.
Ketika Prabowo melangkah meninggalkan pemakaman, ia meninggalkan jejak air mata di tanah Eropa. Air mata yang lahir dari cinta, dari kenangan, dan dari rasa hormat yang begitu dalam.
Dan mungkin, jauh di langit sana, Phillip dan Cornelie Sigar tersenyum melihat cucu mereka berdiri tegak, memimpin bangsa, namun tetap rendah hati mengingat asal-usulnya. Sebab cinta keluarga tidak pernah mati, ia hanya berganti bentuk, dari pelukan menjadi doa, dari kerinduan menjadi air mata yang jatuh di pusara sunyi. (lix)










