Menu

Mode Gelap
SMP N 7 Bolmut Terbakar Damkar Datang Setelah Api Padam

Berita Sulut

“Brenti Jo Boros Pangan”: Seruan Lembut dari Ibu Gubernur Sulut untuk Menghargai Makanan

badge-check


					“Brenti Jo Boros Pangan”: Seruan Lembut dari Ibu Gubernur Sulut untuk Menghargai Makanan Perbesar

Sulutnow.com, Manado — Di tengah hiruk pikuk pembangunan dan kemajuan teknologi, ada pesan lembut yang menggugah dari Bumi Nyiur Melambai: “Brenti jo boros pangan.” Sebuah kalimat sederhana, namun mengandung makna yang dalam tentang kepedulian, empati, dan masa depan.

Gerakan Stop Boros Pangan kembali digaungkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Tim Penggerak PKK Provinsi Sulut, di bawah arahan Ibu Gubernur Anik Wandriani Yulius Selvanus.

Kampanye ini bukan sekadar ajakan, melainkan panggilan nurani bagi setiap keluarga Sulut untuk menata kembali cara mereka memperlakukan makanan, sesuatu yang sering kita anggap sepele, namun begitu berarti bagi yang kekurangan.

“Setiap hari jutaan ton makanan terbuang sia-sia. Padahal di sudut lain negeri ini, masih banyak saudara-saudara kita yang berjuang menahan lapar. Karena itu, mari mulai dari rumah kita sendiri: ambil makanan secukupnya dan habiskan tanpa sisa,” ujar Ibu Anik dengan nada penuh empati.

Kata-katanya bukan sekadar nasihat. Di balik ucapan itu, tersirat keprihatinan dan kasih sayang seorang ibu bagi warganya, ibu bagi anak-anak yang mungkin makan sepotong nasi tanpa lauk, dan bagi petani yang bekerja keras di bawah terik matahari agar bahan pangan tetap tersedia di meja makan kita.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulut, Anik Wandriani, menjelaskan bahwa gerakan ini menjadi langkah konkret menuju ketahanan pangan berkelanjutan. Pengelolaan bahan pangan yang efisien, katanya, bukan hanya soal ekonomi, tapi juga tentang menghormati jerih payah dan berkah alam.

“Setiap butir nasi yang kita hemat adalah bagian dari masa depan bangsa,” tegasnya.

Lebih dari sekadar ajakan untuk tidak membuang makanan, gerakan ini juga menginspirasi masyarakat agar kreatif mengolah sisa bahan pangan menjadi sesuatu yang bermanfaat, dari pupuk organik, pakan ternak, hingga olahan kuliner baru yang bernilai jual.

Ibu Anik tak sekadar berbicara di podium. Ia turun langsung ke lapangan, berdialog dengan ibu-ibu rumah tangga, pelajar, dan komunitas lokal. Dengan cara yang sederhana tapi tulus, ia mengajarkan bahwa menyelamatkan makanan berarti menyelamatkan kehidupan.

“Kita harus ubah pola pikir. Jangan biarkan makanan berakhir di tempat sampah. Kalau bisa diolah lagi, olah. Kalau bisa dibagikan, bagikan,” tuturnya lembut.

Dalam setiap kata yang diucapkannya, tersimpan pesan kasih, bahwa keberlimpahan pangan bukan alasan untuk boros, melainkan tanggung jawab untuk berbagi.

Pesan moral “Ambil makanan secukupnya, kase abis, jang kase sisa” kini menjadi semboyan baru di Sulawesi Utara. Dari meja makan sederhana di pelosok desa hingga ruang-ruang rapat pemerintahan, gema gerakan ini perlahan tumbuh menjadi kesadaran kolektif: bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil.

Dan ketika masyarakat Sulut bersatu dalam semangat ini, mereka tidak hanya menjaga pangan, mereka menjaga masa depan.

“Brenti jo boros pangan. Selamatkan pangan, selamatkan masa depan.” (lix)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gerak Cepat PLN, Listrik di Manado Pulih 100 Persen Usai Gempa

4 April 2026 - 10:38 WITA

Bank SulutGo Perkuat Peran dalam Pendidikan, Kelola Dana Bantuan Kebanksentralan Bersama BI

2 April 2026 - 18:36 WITA

Inflasi Sulut Maret 2026 Terkendali, Terendah di Sulawesi

2 April 2026 - 17:52 WITA

PLN Gerak Cepat Pulihkan Listrik Pasca Gempa, Ratusan Gardu Berhasil Dinormalkan

2 April 2026 - 14:12 WITA

Pemprov Sulut Gerak Cepat Tangani Gempa, Posko Darurat Langsung Diaktifkan

2 April 2026 - 13:28 WITA

Trending di Berita Sulut
error: Dilarang Plagiarisme !!!