Sulutnow.com, Manado — Di tengah upaya membangun konektivitas dunia, langkah besar Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, kembali mendapat pengakuan internasional. Setelah sukses membuka jalur penerbangan dari China dan Korea Selatan, kini Australia menoleh ke Sulut.
Bukan sekadar wacana, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, menyatakan dukungan atas rencana pembukaan jalur penerbangan Australia–Manado melalui Denpasar.

Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuannya dengan Chairperson Manado Manly Society (MMS), Keynes B. Lengkong, yang menjadi mitra aktif Pemprov Sulut di Sydney.
Bagi sebagian orang, kabar ini mungkin terdengar seperti urusan transportasi semata. Namun bagi Yulius, ini adalah babak lanjutan dari mimpi besar menjadikan Sulut sebagai gerbang dunia di kawasan Pasifik.
“Setiap penerbangan yang terbuka bukan hanya tentang pesawat dan turis, tetapi tentang harapan ekonomi rakyat yang ikut terbang,” ucap Yulius.
Langkah diplomasi budaya dan ekonomi ini disambut hangat oleh komunitas Manado di Australia. Melalui MMS, program “Edu-Tourism” tengah digagas, mendatangkan pelajar dan mahasiswa Australia untuk belajar seni, budaya, dan pariwisata Sulut.
Program ini bukan hanya mengenalkan Manado pada dunia, tapi juga menghadirkan dunia ke Manado.
Keynes Lengkong, Ketua MMS, menegaskan bahwa hubungan “people to people” antara warga Australia dan masyarakat Sulut kini semakin erat.
“Kita ingin anak muda Australia datang dan belajar tentang kekayaan budaya kita. Ini kerja sama yang lahir dari rasa saling menghargai,” katanya.
Sementara itu, Dr. Drevy Malalantang, Staf Khusus Gubernur Bidang Pariwisata, menyebut dukungan Dubes Australia sebagai sinyal kuat bahwa Sulut mulai diakui sebagai pemain penting dalam peta pariwisata Asia Pasifik.
“Setiap tahun, lebih dari 1,5 juta wisatawan Australia datang ke Bali. Bila hanya lima persen saja dari mereka melanjutkan perjalanan ke Manado, dampak ekonominya akan luar biasa,” ujarnya penuh optimisme.
Dr. Drevy menjelaskan, karakter wisatawan Australia sangat sesuai dengan potensi pariwisata Sulut.
Mereka menyukai wisata bahari, diving, snorkeling, paddling, dan wisata alam, yang semuanya tersedia dari Bunaken hingga Lembeh, dari Bolsel hingga Sitaro.
Selain itu, wisatawan asal Negeri Kanguru juga gemar menikmati kuliner lokal, budaya otentik, serta wisata petualangan dan relaksasi.
“Sulut memiliki semuanya, laut yang tenang, gunung yang gagah, budaya yang ramah. Kini tinggal bagaimana kita menyambut mereka dengan pelayanan terbaik,” tambahnya.
Di balik langkah besar ini, terlihat benang merah visi Gubernur Yulius Selvanus,
membangun Sulut bukan dengan janji, tetapi dengan konektivitas.
Ia sadar bahwa semakin banyak pintu dunia yang terbuka, semakin besar peluang ekonomi rakyat kecil bergerak.
Maka ketika langit selatan mulai terbuka untuk Sulawesi Utara, itu bukan sekadar jalur penerbangan baru, melainkan sebuah pernyataan bahwa Nyiur Melambai tak lagi berdiri sendiri, tetapi kini berdiri sejajar dengan dunia.
Dan di balik setiap pintu langit yang terbuka, selalu ada satu sosok yang terus mendorong dari belakang, Gubernur Yulius Selvanus, pemimpin yang tak lelah menyalakan cahaya harapan di ufuk timur Indonesia. (lix)










