Sulutnow.com, Manado — Di tengah sejuknya angin yang berhembus dari Teluk Manado, gema kabar bahagia menyelimuti tanah Nyiur Melambai. Dengan suara mantap dan mata yang teduh, Gubernur Sulawesi Utara Mayjen (Purn) Yulius Selvanus, S.E., menyampaikan sebuah kabar yang membuat ruang sidang DPRD Sulut mendadak hening, lalu disambut tepuk tangan panjang penuh haru.
Seperti kata pepatah, laki-laki tidak banyak bercerita, tiba-tiba menunjukkan hasil perjuangan dan kerja kerasnya.

“Saya sudah menyatakan bahwa Sulawesi Utara siap menjadi tuan rumah Natal Nasional 2026,” ujarnya, dengan suara bergetar namun yakin.
Kalimat sederhana itu terasa seperti doa. Seolah mewakili suara jutaan hati rakyat Sulawesi Utara yang selama ini hidup dalam semangat kasih dan kerukunan. Sebuah daerah kecil di ujung timur Indonesia, namun selalu besar dalam cinta dan persaudaraan.
Bagi Gubernur Yulius, penunjukan ini bukan hanya tentang seremoni nasional. Ini tentang cahaya dari Timur, tentang semangat Natal yang lahir dari tanah yang dikenal dengan keberagaman dan kasih tanpa batas.
“Natal Nasional adalah kesempatan kita menunjukkan kepada Indonesia bahwa damai dan toleransi bukan sekadar kata, tapi napas yang kita hidupi setiap hari,” tuturnya lirih namun penuh makna.
Ia tahu, menjadi tuan rumah Natal Nasional berarti tanggung jawab besar. Tapi di matanya, ini juga anugerah. Sebab, Sulawesi Utara punya sesuatu yang tak dimiliki banyak tempat lain, hati yang saling menerima dan mencintai dalam perbedaan.
Gubernur Yulius meminta seluruh warga, terutama Kota Manado, untuk mulai menata diri. Bukan hanya memperindah taman dan jalan, tapi juga mempersiapkan hati. Sebab Natal bukan sekadar perayaan, melainkan perjumpaan, antara manusia, alam, dan Tuhan.
“Kita ingin dunia melihat bahwa Sulawesi Utara bukan hanya indah karena alamnya, tetapi karena kasih di antara warganya,” ungkapnya, disambut anggukan penuh rasa bangga dari para hadirin.
Dalam ruang sidang itu, tak sedikit yang meneteskan air mata. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan, karena mereka tahu, di balik pernyataan kesiapan itu, tersimpan perjuangan panjang membangun daerah yang berdiri di atas pilar kebersamaan.
Natal Nasional 2026 nanti bukan hanya milik umat Kristiani. Ini akan menjadi pesta kasih seluruh anak bangsa, di mana semua tangan akan bergandeng, semua doa akan bersatu, dan semua wajah akan tersenyum dalam satu semangat: Indonesia yang rukun.
Sulawesi Utara akan menjadi panggung harapan, tempat di mana cahaya lilin dari setiap rumah kecil di pelosok desa berpadu menjadi sinar besar yang menerangi negeri.
Dan di tengah cahaya itu, berdiri seorang pemimpin yang mengingatkan bahwa pembangunan tanpa kasih hanyalah bangunan tanpa jiwa.
“Natal ini bukan hanya milik gereja atau pemerintah,” tutur Gubernur Yulius menutup sambutannya, “tetapi milik setiap hati yang masih percaya bahwa kebaikan bisa menyatukan kita semua.”
Malam itu, di bawah langit Manado yang perlahan diterangi bintang-bintang, banyak orang menunduk, bukan karena sedih, tapi karena terharu.
Sulawesi Utara telah menyalakan lilin kecilnya untuk Indonesia. Dan dari Timur, cahaya itu mulai bersinar. (lix)










