Sulutnow.com, Manado – Di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengguncang ekonomi global, Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang kuat.
Stabilitas harga dan pasokan pangan tetap terjaga, menjadi bukti keberhasilan strategi nasional dalam menghadapi tekanan eksternal meski terjadi efisiensi diberbagai sektor.

Sejumlah laporan media menyoroti bahwa struktur ekonomi Indonesia yang ditopang konsumsi domestik dan penguatan sektor pangan membuat dampak konflik global tidak terlalu terasa.
Hal ini semakin diperkuat dengan kondisi daerah, termasuk Sulawesi Utara (Sulut), yang menunjukkan performa positif di sektor pertanian.

Foto istimewa kolase Pemprov Sulut
Di Sulut, ketahanan pangan tidak hanya sekadar terjaga, tetapi juga terus diperkuat melalui berbagai program strategis.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Sulut pada Februari 2026 naik menjadi 128,50, menandakan petani berada dalam kondisi menguntungkan.
Kenaikan ini mencerminkan bahwa pendapatan petani lebih tinggi dibandingkan biaya produksi, sekaligus menjadi indikator kuat bahwa sektor pertanian tetap produktif dan berdaya saing di tengah situasi global yang tidak menentu.
Ketahanan pangan di Sulut juga diperkuat melalui sinergi lintas lembaga.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan BULOG terus ditingkatkan untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan di masyarakat.
Program Bank Indonesia seperti Petani Unggulan Sulawesi Utara (Patua) turut mendorong peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan, bantuan sarana produksi, hingga penguatan pemasaran komoditas strategis seperti cabai dan bawang merah.
Tak hanya itu, kinerja distribusi pangan juga menunjukkan hasil positif.
Penyerapan gabah petani di Sulut dan Gorontalo pada awal 2026 mencapai 1.500 ton atau 102 persen dari target, sekaligus membantu petani mendapatkan harga jual yang menguntungkan.
Dari sisi produksi, Sulut bahkan mencatat peningkatan signifikan.
Produksi beras mengalami kenaikan hingga ratusan ribu ton dibanding tahun sebelumnya, memastikan ketersediaan pangan daerah tetap aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa ketahanan pangan menjadi prioritas utama dalam menjaga stabilitas nasional di tengah dinamika global.
“Ketahanan pangan adalah fondasi kedaulatan bangsa. Kita harus mandiri dan kuat,” tegas Presiden dalam berbagai kesempatan.
Di tingkat daerah, Gubernur Sulut, Yulius Selvanus, terus memperkuat kebijakan pro-petani melalui distribusi bantuan alat pertanian, pembukaan lahan baru, hingga program stabilisasi harga seperti Gerakan Pangan Murah.
Langkah ini dinilai efektif dalam menjaga inflasi tetap rendah dan daya beli masyarakat tetap kuat.
“Program ini merupakan upaya pemerintah untuk memastikan masyarakat tetap bisa mendapatkan bahan pangan dengan harga terjangkau,” ujar Gubernur Yulius saat meninjau Gerakan Pangan Murah di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur belum lama ini.
Meski demikian, pemerintah tetap memberi perhatian pada beberapa subsektor yang masih mengalami tekanan, agar pertumbuhan sektor pertanian dapat dirasakan secara merata oleh seluruh petani.
Sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah, didukung oleh data positif sektor pertanian, menjadi bukti bahwa Indonesia, khususnya Sulut, berada dalam posisi aman dari dampak ekonomi langsung konflik Timur Tengah.
Dengan ketahanan pangan yang solid, harga yang stabil, serta kesejahteraan petani yang terus meningkat, Indonesia semakin menunjukkan diri sebagai negara yang tangguh di tengah ketidakpastian global.
“Tanam apa yang dimakan dan makan apa yang ditanam untuk mewujudkan swasembada pangan,” pesan Gubernur Yulius saat turun ke persawahan Desa Solog di awal tahun 2026. (lix)










