Sulutnow.com, Manado – Riuh tepuk tangan itu bukan sekadar penutup sebuah konferensi. Ia adalah penanda lahirnya sejarah baru. Di tengah dinamika Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Utara (Sulut) 2026, satu nama akhirnya menguat, Sintya Bojoh.
Bukan hanya karena ia menang. Tetapi karena ia membuka pintu yang selama ini terasa berat untuk didorong, menjadi perempuan pertama yang memimpin PWI Sulut.

Di ruang yang dipenuhi para jurnalis, mereka yang setiap hari menulis sejarah orang lain, kali ini sejarah itu ditulis dari dalam. Dari organisasi itu sendiri.
Kemenangan yang Berbicara
Hasil pemungutan suara tak menyisakan banyak keraguan. Sintya meraih 145 suara, unggul signifikan dari Merson Simbolon dengan 109 suara, serta John Paransi yang memperoleh 4 suara.
Namun angka-angka itu lebih dari sekadar statistik. Ia mencerminkan harapan, bahwa PWI Sulut sedang mencari arah baru, energi baru, dan mungkin cara baru dalam memaknai profesi wartawan di tengah perubahan zaman.
Proses pemilihan berlangsung dinamis, kadang tegang, namun tetap berada dalam koridor demokrasi yang sehat. Setiap suara menjadi bukti bahwa independensi dan transparansi masih dijaga sebagai fondasi utama organisasi pers.
Dari Ruang Redaksi ke Panggung Kepemimpinan
Saat berdiri menyampaikan sambutan perdananya, suara Sintya terdengar tegas, namun menyimpan beban tanggung jawab yang tidak ringan.
Ia tidak hanya membawa mandat organisasi, tetapi juga ekspektasi besar di tengah era yang semakin kompleks, di mana informasi bergerak lebih cepat dari kemampuan manusia untuk memverifikasinya.
“PWI harus hadir sebagai pelindung marwah pers. Wartawan tidak hanya dituntut profesional, tetapi juga berani menyuarakan kebenaran serta berpihak pada kepentingan publik,” ucapnya.
Kalimat itu sederhana, tapi dalam. Ia seperti mengingatkan kembali esensi profesi yang sering tergerus oleh kecepatan, tekanan, dan kepentingan.
Tantangan Zaman, Tekad yang Menguat
Di era digital, wartawan tidak lagi hanya bersaing dengan sesama media. Mereka berhadapan dengan banjir informasi, hoaks, algoritma, dan kepercayaan publik yang perlahan tergerus.
Sintya memahami itu. Karena itu, ia menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai prioritas. Pelatihan, sertifikasi, hingga penguatan kode etik jurnalistik menjadi bagian dari komitmennya.
Bagi dia, menjaga kepercayaan publik bukan pilihan, melainkan keharusan.
Lebih dari Sekadar Jabatan
Terpilihnya Sintya bukan hanya soal rotasi kepemimpinan. Ia adalah simbol perubahan.
Di dunia jurnalistik yang masih sering didominasi laki-laki, kehadirannya di pucuk pimpinan PWI Sulut menjadi pesan kuat, bahwa ruang kepemimpinan terbuka bagi siapa saja yang memiliki kapasitas dan integritas.
Ini bukan sekadar kemenangan personal. Ini adalah langkah kecil menuju perubahan yang lebih besar, tentang kesetaraan, tentang keberanian, dan tentang masa depan pers itu sendiri.
Harapan yang Ditanam Hari Ini
Kini, perjalanan baru dimulai. Tantangan di depan tidak ringan. Namun di balik itu, ada harapan yang tumbuh, bahwa di bawah kepemimpinan Sintya Bojoh, PWI Sulut akan semakin kuat sebagai pilar demokrasi, pengawas sosial, dan penjaga kebenaran.
Karena pada akhirnya, pers bukan hanya tentang berita.
Ia adalah tentang suara. Dan hari itu, di Manado, suara itu berbicara lebih lantang dari biasanya.
Penulis/editor: Felix Tendeken










