Sulutnow.com, Manado – Pagi itu, cahaya matahari jatuh pelan di halaman sebuah sekolah di pinggiran kota.
Dindingnya kusam, catnya mengelupas, dan beberapa jendela tampak tak lagi utuh.

Namun di dalam ruang kelas yang sederhana itu, suara anak-anak tetap riuh, membaca, bertanya, dan bermimpi.
Di tempat seperti inilah, program revitalisasi pendidikan yang diresmikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menemukan maknanya yang paling nyata.
Pada Selasa (21/4/2026), di Manado, sebuah langkah besar dimulai.
Pemerintah menggelontorkan anggaran Rp231 miliar untuk merevitalisasi 248 sekolah dan membangun satu sekolah baru di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Angka itu besar.
Tapi yang jauh lebih besar adalah harapan yang ikut disematkan di dalamnya.
“Pendidikan yang berkualitas harus ditopang fasilitas yang memadai. Ini adalah investasi jangka panjang bagi masa depan generasi muda,” ujar Abdul Mu’ti, dengan nada yang menegaskan bahwa ini bukan sekadar proyek pembangunan.
Namun bagi banyak siswa di Sulut, revitalisasi ini bukan soal angka atau kebijakan.
Ini tentang perubahan nyata, tentang atap yang tak lagi bocor saat hujan turun, tentang bangku yang tak lagi reyot, tentang papan tulis yang bisa dibaca dengan jelas dari barisan belakang.
Selama bertahun-tahun, ketimpangan infrastruktur pendidikan di wilayah timur Indonesia menjadi cerita lama yang berulang.
Sekolah-sekolah berdiri dengan segala keterbatasannya, sementara semangat belajar murid dan dedikasi guru kerap menjadi satu-satunya penopang utama.
Di bawah Komando Gubernur Sulut, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, program ini turun ke Sulut dan memutus lingkaran itu.
Lebih dari sekadar memperbaiki bangunan, pemerintah menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan layak.
Sebab pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga ruang-ruang yang membentuk rasa percaya diri, rasa aman, dan mimpi-mimpi yang tumbuh di dalamnya.
Di sisi lain, besarnya anggaran yang digelontorkan juga menghadirkan pertanyaan yang tak bisa diabaikan.
Publik menuntut transparansi.
Mereka ingin memastikan bahwa setiap rupiah benar-benar sampai ke sekolah-sekolah yang membutuhkan, bukan tersangkut di tengah jalan.
Pengawasan dari berbagai pihak pun menjadi kunci.
Sebab di balik proyek sebesar ini, selalu ada risiko yang mengintai, dari keterlambatan pembangunan hingga potensi penyimpangan anggaran.
Namun, harapan tetap lebih kuat.
Revitalisasi ini diharapkan bukan sekadar meninggalkan bangunan baru, tetapi juga menghadirkan perubahan yang terasa: peningkatan kualitas belajar, semangat siswa yang tumbuh, dan kesempatan yang lebih adil bagi anak-anak di Sulut untuk bermimpi setinggi mungkin.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan di dalam kelas.
Tapi juga tentang bagaimana sebuah bangsa memilih untuk merawat masa depannya, dari ruang-ruang kecil yang dulu nyaris rapuh, kini perlahan diperbaiki, satu demi satu. (lix)










