Sulutnow.com, Jakarta – Suara ketukan palu sidang itu menggema melalui layar, membungkus ruang dalam hening yang berat. Di balik setiap ketukan, terangkai sebuah akhir karier, sebuah awal duka yang tak terperi, dan sebuah pertanyaan besar tentang makna pengabdian.
Kompol Cosmas Kaju Gae, lelaki yang hingga detik itu masih menyandang pangkat Komandan Batalyon, mendengarkan setiap kata yang mengiris-iris raga dan jiwanya. Vonis telah jatuh, Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PDTH).

Lalu, datanglah momen yang membekukan itu. Kamera menyorot wajahnya. Air mata yang sejak tadi dikungkung di balik kelopak mata yang berkaca-kaca, akhirnya menyerah. Butir-butir jernih itu meleleh, membasahi pipi, mengukir jalan kesedihan yang paling personal di hadapan publik.
Dia menengadah, seolah mencari jawab dari langit-langit ruang sidang yang bisu. Kemudian, ia menunduk, dikalahkan oleh beban yang terlalu berat untuk dipikul seorang manusia.
Dan di puncak kesunyian itu, tangannya bergerak pelan. Jari-jarinya yang mungkin dulu terlatih memegang senjata, kini bergetar membuat sebuah simbol yang paling suci dalam imannya, tanda salib.
Sebuah gestur yang biasanya dilakukan dalam doa, dalam pengharapan, atau dalam menghadapi maut. Kali ini, ia melakukannya di tengah-tegah kematian kariernya, di hadapan kamera yang menyaksikan kejatuhannya.
Tanda salib. Bagi umat Katolik, itu adalah pengingat akan pengorbanan tertinggi Yesus di Golgota. Sebuah simbol penderitaan, penebusan, dan pengharapan akan kehidupan baru.
Lalu, apa maknanya bagi Cosmas pada detik-detik paling kelam dalam hidupnya?
Apakah itu adalah bentuk penebusan atas sebuah peristiwa yang “berujung tewasnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan”?
Apakah itu adalah pengakuan akan sebuah ‘salib’ yang harus dipikulnya, sebuah beban akibat keputusan dalam “penanganan aksi unjuk rasa pada 28 Agustus 2025”?
Atau, seperti Yesus yang merasa ditinggal Bapa-Nya, apakah Cosmas juga merasa sendiri dalam menjalani ‘hukuman’ untuk sebuah tugas yang ia klaim hanya dilaksanakan demi institusi?
“Yang mulia, ketua sidang kode etik. Sesungguhnya saya hanya melaksanakan tugas dan tanggung jawab, sesuai perintah institusi dan komandan,” katanya, suara tertahan oleh isak tangis yang menyayat hati, melansir dari Kompas.com.
Kalimat itu adalah pembelaannya, sebuah pernyataan bahwa di balik seragam yang melekat pada tubuhnya, ada seorang manusia yang taat pada komando.
“Secara totalitas, untuk menjaga keamanan dan ketertiban umum juga keselamatan seluruh anggota yang saya wakili, dengan risiko yang begitu besar,” ucapnya lagi.
Sebuah pengabdian yang ia lakukan dengan “risiko yang begitu besar”, yang akhirnya berbalik menghancurkannya.
Lalu, tanda salib itu hadir, menjadi titik sebelum ia menyatakan sesuatu yang paling mendasar dari nuraninya.
“Dengan kejadian atau peristiwa, bukan menjadi niat, sungguh-sungguh demi Tuhan, bukan ada niat untuk membuat orang celaka, tapi sebaliknya.”
Demi Tuhan. Dua kata yang ia lontarkan setelah membuat tanda salib. Sumpah atas keyakinannya bahwa tidak ada niat jahat dalam hatinya. Tanda salib menjadi saksi bisu dari sumpahnya itu.
Namun, di sisi lain, ada sebuah keluarga yang kehilangan seorang Affan. Ada sebuah janji keadilan yang harus ditegaskan oleh Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko.
“Wujud perbuatan terduga pelanggar di sini telah bertindak ketidakprofesionalan, sehingga mengakibatkan adanya korban jiwa.”
Antara niat di dalam hati yang disaksikan tanda salib, dan konsekuensi di dunia nyata yang berbuah kematian, terbentang jurang yang dalam. Cosmas mungkin tidak berniat, tetapi Affan tetap mati.
Institusi mungkin telah memberi perintah, tetapi Cosmas-lah yang harus memikul ‘salib’ bernama PTDH, vonis perbuatan tercela, dan proses pidana yang menunggu.
Di akhir pernyataannya, sebelum kembali menunduk, ia menyampaikan belasungkawa yang terdalam.
“Saya juga mau menyampaikan duka cita yang mendalam kepada korban Affan Kurniawan serta keluarga besar, sungguh-sungguh di luar dugaan.”
Tanda salib itu mungkin adalah bahasa terdalam yang ia kuasai untuk menyampaikan rasa dukanya, penyesalannya, dan mungkin harapannya untuk pengampunan. Sebuah simbol yang berbicara lebih keras daripada segala ratapan.
Ia adalah pengakuan akan sebuah penderitaan penderitaan Affan yang terkorbankan, penderitaan keluarganya yang berduka, dan penderitaannya sendiri yang harus menjalani konsekuensi sebagai seorang yang dalam persepsinya hanya menjalankan tugas.
Ketika sidang usai, dan layar konferensi pers padam, yang tersisa adalah bayangan seorang lelaki berseragam yang membuat tanda salib. Sebuah gambar yang akan melekat dalam ingatan, tentang seorang polisi, sebuah kendaraan taktis, seorang pengemudi ojek online yang tewas, dan sebuah tanda salib yang menggantung antara pengabdian dan penebusan, antara perintah dan nurani, antara institusi dan manusia yang paling rapuh di dalamnya.
Cosmas mungkin akan mempertimbangkan banding. Tapi tidak ada banding untuk sebuah tanda salib yang telah terukir di udara, menyatu dengan tangisnya, menjadi doa yang bisu untuk sebuah pengabdian yang berakhir tragis, dan sebuah penebusan yang mungkin tak pernah cukup untuk mengembalikan nyawa yang telah pergi. (lix)
News feature










