Sulutnow.com, Manado – Ruang CJ Rantung terasa berbeda hari itu.
Cahaya lampu sorot memantul pada wajah-wajah para hadirin, seolah ikut menyimak setiap kata yang keluar dari Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Yulius Selvanus Komaling (YSK).

Dalam suasana yang hangat namun penuh keseriusan, YSK menyingkap arah baru pembangunan Sulut melalui RPJMD 2025–2029, sebuah peta jalan yang ia susun bukan hanya dengan logika pemerintahan, tetapi juga dengan nurani seorang pemimpin yang ingin daerahnya melangkah lebih jauh dari hari ini.
Di hadapan para tokoh nasional, akademisi, pemerintah kabupaten/kota, organisasi pemuda, hingga masyarakat, YSK berdiri dengan ketenangan yang khas.
Ia mengawali dengan menjelaskan bahwa masa depan Sulut tidak boleh hanya dibangun dengan angka, melainkan dengan visi yang menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat.
Misi Pertama: Membangun Perekonomian Daerah
YSK menuturkan bahwa perekonomian adalah nadi yang menentukan hidup matinya satu daerah.
Ia mengarahkan pandangan ke seluruh ruangan, seperti ingin menegaskan bahwa tekad ini bukan hanya milik pemerintah, tetapi milik semua warga Sulut.
Pertumbuhan ekonomi 7,8 hingga 8,8 persen pada tahun 2029 bukan sekadar angka baginya.
Itu adalah gambaran wajah para petani yang tersenyum karena hasil panen meningkat, UMKM yang kembali menggeliat, industri kreatif yang menemukan rumahnya, hingga pariwisata yang membawa kembali kejayaan Bumi Nyiur Melambai ke panggung nasional.
Dalam tutur yang lembut namun tegas, ia menegaskan bahwa koperasi, UMKM, pertanian, kehutanan, kelautan, perikanan, hingga penanaman modal hanyalah bagian dari ekosistem besar yang sedang ia bangun, ekosistem yang menempatkan rakyat sebagai pusatnya.
Misi Kedua: Daya Saing Daerah dan Internasional
YSK kemudian membawa hadirin memasuki gambaran masa depan yang lebih luas: Sulawesi Utara yang mampu berdiri sejajar di pentas global.
Ia memaparkan misi memperkuat daya saing daerah dengan begitu runtut, membawa setiap orang dalam ruangan pada satu pemahaman: konektivitas, infrastruktur dasar, transportasi, pelabuhan, air bersih, hingga pengelolaan sampah adalah pondasi, bukan beban pembangunan.
Target Indeks Daya Saing 3,69 pada 2029 digambarkan bukan sekadar peningkatan indikator, tetapi bukti bahwa Sulut bergerak menuju daerah yang terhubung, efisien, memiliki komoditas unggulan, serta mampu mengirimkan produk-produknya ke berbagai penjuru dunia.
Misi Ketiga: Ketahanan Pangan, Energi, dan Air
Bagian ketiga dari RPJMD dibawakan YSK dengan nada yang lebih lembut, seakan ia berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat: kebutuhan dasar masyarakat.
Ia berbicara mengenai ketahanan pangan yang merata, energi yang berkelanjutan, kapasitas air baku yang dapat diandalkan, hingga lingkungan hidup yang terjaga.
Target-target itu bukan untuk memuaskan dokumen laporan, tetapi agar keluarga di pelosok tidak lagi takut kekurangan air, masyarakat pesisir mendapat listrik yang stabil, dan lingkungan Sulut tetap menjadi warisan abadi bagi generasi mendatang.
Obligasi Daerah: Jalan Baru Menuju Masa Depan
Ketika berbicara mengenai Obligasi Daerah, YSK terlihat sangat yakin.
Ia menggambarnya bukan sebagai sekadar instrumen pembiayaan, melainkan jembatan menuju masa depan lebih cerah, jembatan yang mempertemukan pemerintah, publik, dan para investor dalam satu tujuan mulia: memperkuat fondasi ekonomi Sulawesi Utara.
Sarasehan yang mengusung tema Obligasi Daerah sebagai Salah Satu Alternatif Pembiayaan Daerah dan Instrumen Investasi Publik itu menjadi ruang refleksi bahwa pembangunan tak lagi hanya bergantung pada anggaran, tetapi pada keberanian mengambil langkah-langkah strategis dan berani.
Para Tokoh Hadir Menyaksikan Visi Besar Ini
Di antara hadirin tampak Wakil Gubernur Victor Mailangkay, Ketua Badan Anggaran MPR RI Melchias Markus Mekeng, Rektor Unsrat Prof Oktovian B.A. Sompie, Deputi Komisioner Pengawas OJK Eddy Manindo Harahap, Direktur Eksekutif Nagara Institute Dr. Akbar Faizal, hingga Ketua Panitia Sarasehan Nasional Aditya Moha.
Mereka menjadi saksi bagaimana seorang gubernur memaparkan bukan hanya rencana pembangunan, tetapi juga gairah, kepedulian, serta ikhtiar untuk memastikan bahwa setiap energi dan harapan rakyat Sulut menemukan tujuannya.
Di akhir penjelasannya, YSK menutup dengan penuh keyakinan: masa depan Sulawesi Utara tidak datang begitu saja.
Ia dibangun melalui kebijakan yang cermat, keberanian mengambil peluang, dan tekad yang tak pernah menyerah.
Dan RPJMD 2025–2029 adalah jejak awal menuju masa depan itu, masa depan yang ingin ia persembahkan bagi seluruh rakyat Bumi Nyiur Melambai. (lix)










