Sulutnow.com, Manado – Di tengah geliat kreativitas yang terus tumbuh di Sulawesi Utara (Sulut), sebuah babak baru dimulai.
Bukan sekadar pergantian kepengurusan, melainkan lahirnya harapan baru bagi ribuan pelaku ekonomi kreatif yang selama ini bergerak dengan semangat, namun sering kali berjalan sendiri-sendiri.

Indonesia Creative Cities Network (ICCN) secara resmi menetapkan Standius Bara Prima sebagai Koordinator Daerah (KORDA) ICCN Sulawesi Utara, dengan Yunan Helmy Balamba sebagai Sekretaris KORDA untuk periode 2026–2028.
Penetapan ini menjadi penanda dimulainya penguatan “orkestrasi kolaborasi”, sebuah upaya menyatukan ragam potensi kreatif Sulut agar bergerak dalam satu irama, saling menguatkan, dan melahirkan dampak nyata.
Sulut dikenal sebagai tanah yang kaya kreativitas.
Dari tangan-tangan pengrajin yang merawat warisan budaya, komunitas seni yang menjaga identitas daerah, hingga generasi muda yang menghadirkan inovasi digital, semua tumbuh dalam ruang-ruang kreatif yang beragam.
Namun, di balik semaraknya karya dan event, tersimpan tantangan klasik: potensi besar yang masih tersebar dan belum sepenuhnya terkoneksi.
Dalam situasi itulah, kehadiran Standius Bara Prima membawa misi yang lebih dari sekadar menjalankan roda organisasi.
Ia memandang peran KORDA sebagai jembatan yang menyatukan energi kreatif lintas kabupaten dan kota.
“Sulut punya modal kreatif yang kuat. Tugas KORDA adalah memastikan modal ini terkoneksi, naik kelas, dan punya jalur yang jelas untuk bertumbuh,” ujar Standius Bara Prima.
Bagi Standius, kreativitas bukan sekadar karya, tetapi ruang harapan.
Ia melihat pelaku ekonomi kreatif sebagai wajah masa depan daerah, mereka yang menciptakan lapangan kerja, menjaga identitas budaya, sekaligus menghadirkan kebanggaan daerah di panggung nasional hingga internasional.
Karena itu, ia menekankan pentingnya konsolidasi jejaring, pemetaan ekosistem kreatif, hingga penguatan kapasitas pelaku agar kreativitas tidak berhenti pada semangat, tetapi bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.
Di sisi lain, peran Yunan Helmy Balamba sebagai Sekretaris KORDA menjadi fondasi penguat gerakan kolaborasi tersebut.
Yunan memahami bahwa jejaring kreatif tidak hanya membutuhkan gagasan besar, tetapi juga sistem koordinasi yang rapi dan konsisten.
Ia menegaskan bahwa sekretariat akan menjadi ruang yang memastikan komunikasi lintas pihak berjalan lancar, dokumentasi program tertata, serta kerja kolaboratif mampu bergerak cepat menuju realisasi.
Dengan kepemimpinan yang saling melengkapi, keduanya bertekad menjadikan ICCN Sulut sebagai simpul penggerak yang mampu merangkul komunitas, pelaku usaha, akademisi, media, dan pemerintah daerah dalam satu gerakan bersama.
Periode 2026–2028 diproyeksikan menjadi masa penguatan fondasi ekosistem kreatif Sulut.
Berbagai langkah strategis akan didorong, mulai dari konsolidasi jejaring lintas daerah, pemetaan potensi kreatif, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga aktivasi ruang showcase karya yang membuka peluang kolaborasi dan akses pasar lebih luas.
Lebih dari itu, ICCN Sulut juga ingin memastikan bahwa setiap pelaku kreatif, dari komunitas kecil hingga pelaku industri, memiliki ruang untuk berkembang.
Penguatan brand lokal, pengembangan talenta muda, hingga penghidupan kembali ruang-ruang kreatif menjadi bagian dari mimpi besar yang sedang dirajut.
Penetapan kepengurusan baru ini juga menjadi sinyal kuat bahwa Sulut siap mempertegas posisinya sebagai salah satu simpul ekonomi kreatif Indonesia.
Dengan strategi yang lebih terukur dan kolaborasi yang lebih terarah, para pelaku kreatif diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam arus perkembangan industri kreatif nasional, tetapi menjadi pemain utama yang mampu membawa identitas Sulut semakin dikenal luas.
Melalui kepemimpinan Standius Bara Prima dan Yunan Helmy Balamba, ICCN Sulut membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi komunitas, pelaku usaha, kampus, media, serta pemerintah kabupaten dan kota yang ingin terlibat dalam penguatan ekosistem ekonomi kreatif Sulut sepanjang 2026–2028.
Di balik berbagai rencana besar itu, tersimpan harapan sederhana, agar kreativitas anak-anak Sulut tidak pernah kehilangan ruang untuk tumbuh, dan karya-karya mereka dapat menjadi jembatan masa depan daerah yang lebih berdaya, berbudaya, dan membanggakan. (lix)










