Menu

Mode Gelap
SMP N 7 Bolmut Terbakar Damkar Datang Setelah Api Padam

Berita Sulut

Di Ujung Sakit, Kesetiaan Itu Tetap Hidup: Kisah Menggetarkan antara Adolfien Wangania dan Pendukungnya

badge-check


					Di Ujung Sakit, Kesetiaan Itu Tetap Hidup: Kisah Menggetarkan antara Adolfien Wangania dan Pendukungnya Perbesar

Sulutnow.com, Manado – Di sebuah sudut sederhana di Lorong Potlot, Singkil Dua, Kota Manado, ada kisah yang mungkin tak pernah masuk panggung besar politik.

Namun justru di sanalah, makna sesungguhnya dari hubungan antara pemimpin dan rakyat terasa begitu dalam dan menggetarkan hati.

Seorang pria tua, Arifin Djailani, atau yang akrab disapa Om Arifin, terbaring dalam kondisi sakit.

Tubuhnya melemah, hari-harinya tak lagi sekuat dulu.

Namun ada satu hal yang tak pernah luntur, yaitu kesetiaannya.

Di tengah keterbatasan itu, ia tetap mengenakan kaos bergambar sosok yang ia kagumi, Adolfien Wangania.

Bukan karena diminta.

Bukan pula karena ingin dilihat orang.

Tapi karena di dalam hatinya, ada rasa percaya dan cinta yang begitu tulus kepada sosok yang ia anggap dekat.

Pemandangan itu sederhana, namun menyayat hati.

Seorang pendukung yang mungkin tak lagi mampu berdiri tegak, tetapi tetap memilih setia, dengan cara yang ia bisa.

Dan kisah itu tidak berhenti di sana.

Di tengah kesibukan dan tanggung jawabnya sebagai Anggota DPRD Kota Manado sekaligus Ketua Fraksi Partai Golkar, Adolfien tak melupakan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.

Ia menyempatkan diri menghubungi Om Arifin melalui panggilan video.

Di layar kecil itu, dua dunia yang berbeda bertemu.

Yang satu dalam ruang tugas dan tanggung jawab, yang satu lagi dalam ruang perjuangan melawan sakit.

Namun keduanya dipersatukan oleh satu hal, ikatan kemanusiaan.

Tak ada kata-kata berlebihan.

Hanya sapaan hangat, senyum yang ditahan haru, dan mata yang berbicara lebih dalam dari sekadar ucapan.

Mungkin bagi sebagian orang, itu hanya panggilan biasa.

Tapi bagi Om Arifin, itu adalah penguat.

Bukti bahwa dirinya tidak dilupakan.

“Tanpa mereka, saya tidak bisa sampai di titik ini,” ucap Adolfien lirih.

Kalimat itu terasa sederhana, namun mengandung beban rasa yang begitu besar.

Sebab di baliknya, ada pengakuan bahwa setiap langkah yang ia capai, tidak pernah lepas dari doa, harapan, dan kesetiaan orang-orang kecil seperti Om Arifin.

Kisah ini bukan tentang politik.

Ini tentang hati.

Tentang seseorang yang tetap setia bahkan saat tubuhnya melemah.

Dan tentang seorang pemimpin yang masih sempat menoleh, menyapa, dan mengingat.

Di dunia yang sering kali terasa dingin dan penuh kepentingan, kisah ini hadir seperti secercah hangat, mengingatkan kita bahwa ketulusan itu masih ada.

Dan bahwa hubungan manusia, ketika dijaga dengan hati, akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup. (lix)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kendaraan Dinas Bukan untuk Gaya Gayaan, Gubernur Yulius Sidak Kendis Pejabat Eselon II

20 April 2026 - 18:44 WITA

Gubernur Yulius Setujui Kenaikan Subsidi Haji, Ringankan Beban Jemaah di Tengah Lonjakan Avtur

17 April 2026 - 15:16 WITA

Standius Bara Prima, Sosok Muda Visioner Penggerak Ekonomi Kreatif dan Literasi di Sulawesi Utara

17 April 2026 - 14:57 WITA

Diduga Cemari Sungai, Tambang Emas di Modayag Terancam Sanksi Pidana

17 April 2026 - 10:58 WITA

Peringati Hari Nelayan Nasional, DKP Sulut Hadirkan Dokter Naik Kapal hingga Pasar Murah di TPI Tumumpa

16 April 2026 - 13:19 WITA

Trending di Berita Sulut
error: Dilarang Plagiarisme !!!